Hello, welcome to my world. The world full of love. Sometimes i'm not sure axactly what i'll be writing about on this blog but this blog is about share, this is my playground where i can share everything that i have with you.

I am Ronald Selatan (rselatan) living and enjoing Bali so much, I'm a fulltime lover. People says if you want to know my self, just read up this blog. This is a site of LOVE.

HOME | DE SOUTH | MARKETPLACE | CONTACT
_________________________________________________________________

Wednesday, October 01, 2008

Perfeksionis Vs Easy Going

Kamu ngerasa kegiatan yang dilakukan secara spontan bisa membuat hidup kamu lebih ‘hidup'. Sementara ada orang disekitar kamu malah merasa hidupnya bakalan kacau balau bila melakukan kegiatan tanpa rencana. "Bagaimana bisa hidup tanpa perencanaan yang jelas," begitu selalu prinsipnya, sedangkan kamu lebih easy going. Lalu, di mana titik temunya?



Sifat Dasar Yang Bertolak Belakang

Setiap orang, menurut teori psikologi, mempunyai sifat dasar yang terangkum dalam DISC (dominant, influencing, steady, compliant). "Hanya, masing-masing pribadi memiliki satu sifat dasar yang lebih dominan dibandingkan sifat lainnya," Jika ada orang yang perfeksionis, berarti sifat dasarnya adalah compliant. Sedangkan bagi kamu yang lebih santai, memiliki sifat dasar influencing.

Ciri-ciri orang bersifat compliant, antara lain perfeksionis, penuh rencana dan selalu ingin akurat. Kebalikannya, orang yang memiliki sifat influencing lebih mudah menyesuaikan diri dengan keadaan, optimistis dan senang bergaul. Hanya saja sisi negatifnya, ia cenderung berantakan, tidak perhatian terhadap hal mendetail, bahkan sering lupa.

Nah, akibat dari sifat dasar yang bertolak belakang itu, tidak heran jika orang perfeksionis jadi sering marah, menggerutu atau mengomel, karena orang yang bertipe influencing dianggapnya kurang disiplin, kurang rapi dan tidak memiliki perencanaan hidup atupun kreatif yang berlebihan. Sebaliknya, orang yang easy going menganggap mereka (orang perfeksionis) terlalu menuntut dan sulit menerima apa adanya.

Hindari Mengkritik Langsung

Mengubah sifat seseorang perlu usaha keras karena sifat itu terbentuk sejak dia kecil dan terus dibawa hingga dewasa dan cenderung menjadi karakter. Tapi kemungkinan untuk suatu perubahan tetap ada. Hanya saja perubahannya tidak dahsyat. Dan, perubahan itu tak bisa langsung terlihat. Perlu proses sebelum akhirnya ia memutuskan berubah.

Jika kita berniat sedikit mengubah orang yang perfeksionis agar lebih santai dan fleksibel, Kita perlu memakai cara halus. Cara paling ampuh, menurut para psikolog, adalah mencoba bersabar dan mengalah, (duh... susah banget yang ini yah).

Cara lain adalah berikan mereka pilihan. Bicarakan dengan mereka tentang sikapnya yang kaku. Carilah waktu yang tepat, mungkin ketika menonton televisi, saat mereka sedang tidak stres karena pekerjaan, dll. Bujuklah sambil bercanda agar ia sedikit ‘longgar' terhadap standar kesempurnaannya.

Fleksibel Perlu Ada Batasnya

Pertengkaran, mungkin, tak pernah terjadi karena orang yang easy going cenderung memandang sesuatu dengan santai. Tapi, apakah kita tak akan menjadi bosan melihat orang perfeksionis marah-marah terus? Rasanya, tak ada salahnya jika kita juga berusaha lebih toleran. Barangkali, lebih mudah mengubah diri sendiri daripada berusaha mengubah orang lain.

Memang kadang kala tidak gampang untuk bisa saling memahami, apalagi jika sifat yang sangat bertentangan ini. Tapi, jika kita tetap memegang pembawaan yang santai dan tenang, meski menghadapi masalah, ini akan membantu untuk lebih memahami.

Tuhan menunjukkan konsep perbedaan ini dengan sangat jelas melalui Adam dan Hawa. Adam bertengkar dengan Hawa dan saling menyalahkan. Karena Hawa yang jatuh ke dalam dosa, akhirnya Adam juga ikut jatuh ke dalam dosa dan Adam dikutuk dengan berkeringat akan mencari nafkah (hidup susah). Bisa dibayangkan, bagaimana galaunya perasaan mereka saat kehidupan nyaman dan indah yang selama ini mereka nikmati bersama dengan Tuhan berakhir sudah. Pertengkaranpun tak dapat dihindarkan.

Jika kita mengalami kesulitan memperbaiki hubungan yang didasari perbedaan ini maka tetaplah berusaha menerapkan nilai-nilai perbedaan sesuai standard Firman Tuhan.

Semangaaat!!!

1 comment:

Suin Tan said...

wah ni lu banget neal